Kisah Hadi Tjahjanto Dibukukan dalam “Marsekal Hadi Tjahjanto Merangkul Arus Perubahan”

Editor Penulis buku "Marsekal Hadi Tjahjanto Merangkul Arus Perubahan", Eddy Suprapto, memaparkan latar belakang penulisan bukunya, dengan pembahas Kolonel Wahyu Tjahjadi, adik kandung Marsekal Hadi Tjahjanto dan Dekan FIB - UNS, Prof. Warto. /visi.news/tok suwarto
Silahkan bagikan

VISI.NEW | SOLO – Arus perubahan di berbagai bidang yang terjadi di Indonesia, menjadi bagian Marsekal Hadi Tjahjanto semasa menjadi panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) selama sekitar 4 tahun.

Perubahan di bidang politik, ketika Hadi Tjahjanto memimpin TNI, dilaksanakan pemilihan umum (Pemilu) kepala daerah secara serentak dan pemilihan presiden (Pilpres) yang sarat dengan ketentanan.

Puncaknya, di saat menjelang akhir masa jabatan Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai panglima TNI, terjadi pandemi Covid – 19 dan TNI melakukan tugas operasi selain perang (TOSP) dengan mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, Tiongkok.

Rentetan peristiwa yang terkait dengan Marsekal Hadi Tjahjanto sewaktu memangku jabatan panglima TNI itu, merupakan bagian dari isi buku berjudul “Marsekal Hadi Tjahjanto Merangkul Arus Perubahan”, yang ditulis Eddy Suprapto dan kawan-kawan.

Dalam bedah buku dan peluncuran buku “Marsekal Hadi Tjahjanto Merangkul Arus Perubahan” di ruang sidang Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu (8/12/2021), Eddy Suprapto, mengungkapkan, Marsekal Hadi Tjahjanto yang merupakan panglima pilihan Presiden Jokowi, memimpin tiga matra TNI-AD, TNI-AU dan TNI-AL, harus merangkul berbagai perubahan yang terjadi dari yang semula tidak ada menjadi ada, dari perubahan akibat pembangunan infrastruktur, termasuk perubahan pada sumber daya manusia (SDM).

“Di tengah arus berbagai perubahan itu, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto berusaha merangkul TNI dan Polri melalui soft diplomatik. Sehingga, sewaktu pemilihan kepala daerah secara serentak maupun pemilihan presiden digelar, tidak terjadi gejolak. Hadi Tjahjanto mampu meredam gesekan-gesekan masyarakat di bawah dalam pemilihan kepala daerah serentak maupun pemilihan presiden yang penuh kerawanan,” ujar Eddy Suprapto.

Baca Juga :  Tingkatkan Pariwisata Domestik, Golden Rama Tours & Travel Terus Hadirkan Paket Menarik

Dalam buku setebal 269 yang ditulisnya, Eddy Suprapto yang sebelumnya juga menulis otobiografi Marsekal Hadi Tjahjanto dengan judul “Anak Sersan Jadi Panglima”, lebih banyak memaparkan pengalaman dalam berkarir sejak dilantik sebagai panglima TNI sampai memasuki masa pensiun. Dengan gaya bertutur, penulis buku tersebut membagi kisah Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai panglima TNI menjadi 6 bab, yaitu tentang jalan hidup yang berubah, tentang langkah besar sang marsekal, tentang Hadi Tjahjanto dan tahun bencana, tentang benteng andalan negara, Sang Dirigen Orkestra TNI dan tentang jejak sepatu sang marsekal.

“Dalam merangkul arus perubahan, Marsekal Hadi Tjahjanto berupaya mensinergikan TNI dengan Polri. Selain itu, saat awal pandemi Covid-19 TNI mengevakuasi WNI dari Wuhan ke pulau Bintan dan juga memindahkan WNI dari sebuah kapal pesiar yang dikhawatirkan menularkan Covid – 19. Tugas itu di kalangan tenaga medis tidak sanggup, karena takut tertular. TNI di bawah komando panglima Hadi Tjahjanto, berhasil dengan baik melaksanakan tugas itu,” jelasnya.

Adik kandung Hadi Tjahjanto, Kolonel Wahyu Tjahjadi, yang menjadi pembahas buku “Hadi Tjahjanto Merangkul Arus Perubahan”, kedekatan kakaknya dengan Presiden Jokowi yang melihat potensi Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai pemimpin, terlihat sejak menjabat sebagai sekretaris militer (Sesmil) kepresidenan.

“Presiden Jokowi melihat potensi tersebut yang ditunjang loyalitas atau kesetiaan yang merupakan jiwa kakak saya yang sudah tertanam sejak masa kanak-kanak. Berdasarkan kedua hal itu, Marsekal Hadi Tjahjanto dalam mengemban tugas, karena kakak saya itu selalu melaksanakan tugas secara totalitas dengan sepenuh hati,” ungkapnya.

Kolonel Wahyu Tjahjadi yang juga merupakan anggota TNI-AU, berharap pengalaman Marsekal Hadi Tjahjanto yang dibukukan dan menjadi monumen sejarah dan bahan pembelajaran bagi generasi muda, khususnya di kalangan anggota TNI.

Baca Juga :  AMSI Jabar Kerja Sama Google Inisiative dan Cek Fakta Gelar Literasi Berita, Mengenal Hoax dan Menangkalnya

Pembahasan lain, Dekan FIB, Prof. Warto, menanggapi masalah obyektivitas penulisan buku otobiografi, menegaskan, untuk menghindarkan subyektivitas para penulis harus taat pada kaidah ilmiah dan menjadikan kaidah ilmiah sebagai pegangan utama yang harus terpenuhi.

“Hal itu berarti, obyek penulisan harus dihampiri sebagai manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jadi bukan mendekati sebagai superman atau spiderman atau manusia super lainnya,” kata Prof Warto.

Terkait dengan isi buku “Marsekal Hadi Tjahjanto Merangkul Arus Perubahan”, dia melihat Marsekal Hadi Tjahjanto banyak sisi positif yang bisa diambil sebagai referensi bagi generasi TNI berikut.
Mengutip Kolonel Wahyu Tjahjadi, dia menekankan pentingnya prinsip kesetiaan yang harus dijunjung tinggi para anggota TNI.@tok

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kemenko Marves Ajak Huawei Tingkatkan Kolaborasi di Bidang Smart Future

Rab Des 8 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS | TIONGKOK – Hari ini Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves) Republik Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan bertemu dengan Rotating Chairman Huawei Guo Ping untuk membahas hubungan erat antara Indonesia dan Huawei di bidang transformasi digital, beserta sejumlah inisiatif dalam pengembangan digitalisasi, 5G, kecerdasan buatan (AI), dan energi […]