Mahasiswa UNS Gelar Aksi Solidaritas dan Keprihatinan Atas Meninggalnya Gilang

Editor Massa mahasiswa UNS dari berbagai fakultas yang dikoordinasikan BEM UNS, menggelar aksi damai di kampus Kentingan unjuk keprihatinan atas meninggalnya mahasiswa baru, Gilang Endi Saputra, dalam Diklatsar Menwa. /visi.news/tok suwarto
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | SOLO – Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menggelar aksi solidaritas dan keprihatinan atas meninggalnya mahasiswa baru, Gilang Endi Saputra (21), dalam pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar) Korps Mahasiswa Siaga 2021.

Sekitar 200-an mahasiswa dari berbagai fakultas yang mengenakan baju hitam tanda dukacita dan dikoordinir Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS, di bawah hujan rintik-rintik pada Senin (1/11/2021) petang, melakukan long march dari markas Resimen Mahasiswa (Menwa) Batalyon (Yon) 905 Jagal Abilawa di dekat boulevard menuju ke kantor pusat gedung “dr. Prakosa” sambil meneriakkan tuntutan “bubarkan Menwa”.

Dalam perjalanan yang diiringi genderang, massa mahasiswa juga menyanyikan lagu “Seorang Kawan Kami Meninggal, Bongkar Bongkar Bongkar.” Selain itu, para mahasiswa yang sejak di depan markas Menwa secara bergantian berorasi, juga membeber spanduk bertulisan tangan “Justice fo Gilang” dan “Tidak butuh maaf – Usut tuntas”, serta sejumlah poster di antaranya bertuliskan “Bubarkan UKM pembunuh”, “Bubarkan Menwa”, “Menwa Jagal Mahasiswa” dan plesetan. Who’s the Next 905, Jagal Ambil Nyawa.”

Sebelum massa mahasiswa menuju pelataran depan gedung kantor pusat UNS, para pengunjuk rasa sempat berhenti di simpang tiga antara boulevard dengan kantor pusat sambil membentuk formasi lingkaran besar. Di tempat itu, para pengunjuk rasa kembali menggelar orasi bergantian, meneriakkan tuntutan, sementara koordinator aksi bernegosiasi dengan salah seorang staf kantor pusat soal permintaan dialog dengan pimpinan UNS.

Sambil menunggu hasil negosiasi, beberapa mahasiswa yang berorasi menyinggung tindak kekerasan dalam pelatihan Menwa dengan sandi-sandi, seperti “kipas asmara” yang maksudnya tamparan kiri dan kanan, serta sandi “ranting jatuh” yang maksudnya pukulan popor senjata.

Baca Juga :  Penangkapan Pelaku Parodi Lagu Indonesia Raya Bikin Geger Warga Karangtengah Cianjur

Setelah selesai menunggu negosiasi sambil berorasi, massa mahasiswa yang tak henti-henti meneriakkan tuntutan bergerak dengan tertib dalam barisan menuju pelataran depan kantor pusat UNS.
Di kanopi kantor pusat gedung “dr. Prakosa”, telah menunggu Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr.. Ahmad Yunus, didampingi beberapa wakil rektor, Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. Sutanto,

Ketua Tim Evaluasi Dr. Sunny Ummul Firdaus dan lain-lain.
Di depan pimpinan UNS, Ketua BEM UNS dan koordinator aksi l, Zakky Zuhad, membacakan tuntutan, di antaranya minta pimpinan UNS bersikap tegas terhadap Menwa, bukan sebatas membekukan tetapi dibubarkan. Pimpinan UNS diminta meninjau ulang relevansi Menwa, bertindak proaktif untuk mendapatkan hasil utopsi penyebab kematian Gilang, serta bersikap tegas terhadap Menwa yang melanggar aturan dalam melaksanakan Diklatsar.
“Pimpinan UNS meskipun belum menerima hasil utopsi dari kepolisian, tetapi sudah mengetahui ada kekerasan yang menyebabkan kematian. Kami minta pimpinan UNS proaktif untuk mendapatkan hasil utopsi dan bertindak tegas terhadap pelakunya,” kata Zakky.

Menanggapi tuntutan mahasiswa
Prof. Ahmad Yunus, menegaskan, pimpinan UNS telah menyerahkan proses hukum atas kematian Gilang ke pihak Polri. Pada saat yang bersamaan, UNS membentuk tim evaluasi untuk menggali data dan fakta di lapangan yang akan digunakan untuk mengeluarkan kebijakan.
“Kita sudah menyerahkan proses hukum ke kepolisian. Sampai saat ini, kita tidak mengetahui hasil utopsi dan belum menerima hasil utopsi dari kepolisian,” jelas Prof. Yunus.

Ketua tim evaluasi, Dr. Sunny Ummul Firdaus, menambahkan, tim melaksanakan tugas evaluasi kasus kematian Gilang secara profesional untuk menegakkan keadilan. Dalam evaluasi tersebut, tim perlu data yang valid dan komprehensif yang saat ini dalam proses pengumpulan dan analisa.
“Jadi, tim bekerja secara profesional berdasarkan fakta dan data, bukan berdasarkan asumsi-asumsi atau dugaan-dugaan dan perkiraan. Soal hasil utopsi merupakan ranah kepolisian untuk proses hukum dab kepentingan penyidikan,” tandasnya.

Baca Juga :  Daftar Pertandingan 16 Besar Euro 2020

Setelah menyampaikan tuntutan dalam aksi keprihatinan dan dialog di kanopi kantor pusat UNS, massa mahasiswa membubarkan diri dengan tertib.@tok

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

JADWAL SALAT: Bandung dan Sekitarnya, Selasa, 2 November 2021

Sel Nov 2 , 2021
Silahkan bagikanZuhur: 11.37 Asar: 14.51 Magrib: 17.48 Isya: 18.58 Subuh: 04.08 RENUNGAN FIRMAN: “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta bendanya karena mencari keridaan Allah semata dan untuk keteguhan jiwa mereka, adalah seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu kemudian menghasilkan buahnya […]