Marine Le Pen: Saya Percaya Jilbab Pakaian Ekstremis

Editor Politisi perempuan sekaligus pengacara dan anggota parlemen Eropa Marine Le Pen./the national/via republika.co.id/ist
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Pemimpin sayap kanan Prancis Marine Le Pen pada Jumat (29/1/2021) lalu mengusulkan pelarangan jilbab muslim di semua tempat umum. Langkah demikian hampir pasti akan dianggap tidak konstitusional.

Namun, isu tersebut adalah tema kampanye yang akrab bagi politisi wanita berusia 52 tahun itu, menjelang 15 bulan sebelum pemilihan presiden 2022 negara itu.

Dalam konferensi pers di mana dia mengusulkan undang-undang baru untuk melarang ‘ideologi Islam’, Le Pen menyebut muslim totalitarian dan kejam.

“Saya percaya bahwa jilbab adalah pakaian ekstremis,” kata Le Pen, dilansir Republika.co.id dari The National, Sabtu (30/1/2021).

Sejak memimpin partai sayap kanan utama Prancis dari ayahnya, Le Pen telah mencalonkan diri dua kali sebagai presiden Prancis. Pada 2017 dia kalah besar dari pendatang politik baru Emmanuel Macron, dan pada 2018 dia dicoret sebagai kekuatan politik.

Namun, jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan dia lebih dekat dari sebelumnya ke tujuan utamanya. Hal ini telah menyebabkan banyak spekulasi mengenai apakah populis anti-Uni Eropa dan anti-imigrasi itu dapat memasuki Istana Elysee.

Sebuah survei yang dirilis pekan ini menunjukkan bahwa dia berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Macron. Le Parisien melaporkan, jajak pendapat yang dilakukan secara online oleh Harris Interactive menunjukkan bahwa jika pemilihan presiden putaran terakhir diadakan hari ini, Le Pen akan mengumpulkan 48 persen suara, sementara Macron akan terpilih kembali dengan 52 persen.

“Ini sebuah jajak pendapat, ini cuplikan sesaat, tetapi yang ditunjukkan adalah bahwa gagasan saya menang itu kredibel, bahkan masuk akal,” kata Le Pen pada konferensi pers pada Jumat.

Prospek perlombaan yang ketat memicu lonceng peringatan di arus utama politik Prancis karena krisis kesehatan dan ekonomi ganda yang disebabkan oleh pandemi virus corona yang melanda seluruh negeri.

Baca Juga :  Disponsori Huawei, Laporan Resmi tentang "All-Flash Data Center" Terbaru Telah Dirilis

Namun demikian, seorang ilmuwan politik Prancis yang mengkhususkan diri pada sayap kanan, Jean-Yves Camus mengatakan angka itu adalah yang tertinggi yang pernah Le Pen capai. Meskipun, menurutnya, terlalu dini untuk mengambil jajak pendapat begitu saja.

Camus mengatakan, Marine Le Pen diuntungkan dari frustrasi dan kemarahan atas pandemi dan pembatasan yang menyertainya serta pemenggalan kepala guru sekolah Prancis Samuel Paty oleh ekstremis Islam Oktober lalu.

“Itu berdampak besar pada opini publik. Dan di bidang ini, Marine Le Pen memiliki keuntungan: partainya terkenal karena posisinya yang mengecam ekstremisme Islam,” kata pakar dari Yayasan Jean-Jaures kepada AFP.

Menanggapi kematian Paty, pemerintahan Macron telah menutup sejumlah organisasi yang dianggap ekstremis dan membuat rancangan undang-undang yang awalnya disebut “RUU anti-separatisme”, yang menindak pendanaan asing untuk organisasi Islam.

Jika terpilih kembali setelah kampanye yang diharapkan difokuskan pada pekerjaan, yakni pandemi dan tempat Islam di Prancis, Macron akan menjadi presiden pertama sejak Jacques Chirac pada 2002 yang memenangkan masa jabatan kedua. @fen 

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ketua DPRD: Masa Jabatan Bupati dan Wakil Bupati Bandung Berakhir di 17 Pebruari 2021

Sen Feb 1 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS — DPRD Kab. Bandung melaksanakan Rapat Paripurna tentang Pengumuman Usulan Pemberhentian Bupati dan Wakil Bupati Bandung Masa Jabatan 2016-2021, yang akan berakhir pada tanggal 17 Pebruari 2021 nanti. Pada kesempatan itu, Bupati Bandung, Dadang M. Naser, menyampaikan, bahwa Rapat Paripurna hari ini untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 23 […]