Media Tidak Sebarkan Ketakutan dalam Pemberitaan Bom Makassar

Editor Adiyana Slamet, Ketua KPID Jawa Barat./visi.news/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Komisi Penyiaran Indonesia (KPID) Jawa Barat mengingatkan kepada semua lembaga penyiaran untuk tidak terlalu mengeksploitasi peristiwa ledakan bom di depan gereja Katedral Makassar, yang terjadi pada Minggu 28 Maret 2021.

“Kami ajak media memberitakan secara profesional, akurat dan menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, tanpa mendramatisir kejadian, sehingga malah menakutkan publik,” kata Ketua KPID Jawa Barat Adiyana Slamet, Senin (29/3/2021).

Dalam siaran persnya, Adiyana mengutip ketentuan pasal 24 Pedoman Perilaku Penyiaran Tahun 2012 tentang peliputan terorisme.

Pasal tersebut antara lain menyatakan bahwa dalam melakukan program siaran jurnalistik tentang terorisme, media tidak melakukan labelisasi berdasarkan suku, agama, ras, dan/atau antar golongan terhadap pelaku, kerabat, dan/atau kelompok yang diduga terlibat.

Selanjutnya juga dinyatakan bahwa media tidak membuka dan/atau mendramatisir identitas kerabat pelaku yang diduga terlibat.

Terkait dengan korban yang luka, juga diingatkan agar media tidak menayangkan gambar-gambar yang mengandung sadisme, mempertontonkan luka, sehingga membuat publik maupun korban menjadi trauma.

“Buatlah berita yang proporsional dan akurat sehingga membantu publik menerima informasi yang benar, karena dalam era media sosial terkadang banyak terjadi mis informasi, dan lembaga penyiaran harusnya mampu menjadi rujukan berita yang benar,” kata Adiyana Slamet.@pih

Baca Juga :  Karena Datanya di Konsultan, Lurah Jelekong Tidak Tahu 40 Nama Penerima Rutilahu

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

HIDAYAH: Dari Buku yang Terjatuh, Derbeshyr Jadi Mualaf

Sen Mar 29 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Yusuf Derbeshyr merupakan seorang pemuda Inggris. Seperti pemuda Inggris pada umumnya yang suka bersenang-senang, Yusuf juga menjalani kehidupannya seperti itu. Setiap akhir pekan dia selalu pergi ke bar untuk minum-minum dan berkumpul bersama teman-temannya. Namun, gaya hidupnya berubah sepulangnya dari berlibur. Hidayah menjadi muslim datang, bukan pengalaman […]