Napak Tilas "Gedong Cai Tjibadak" (3/habis): Pernah Dijadikan Senjata Sabotase Melawan Belanda

Editor "Gedong Cai Tjibadak" (1921) sumber air penting bagi warga Bandung./visi.news/dok.istimewa
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Menurut Suherlan, Tjibadak (baca: Cibadak) berpengaruh besar terhadap kebutuhan air seluruh masyarakat Bandung bagian tengah yang pada saat itu dikuasai oleh Belanda. Oleh karena itu, ini menjadi alasan ketiga Laskar Bandung Utara bertahan menjaga lembur.
Lanjut Suherlan, mereka percaya ketika menguasai sumber air maka dapat menduduki Bandung secara keseluruhan. Akhirnya, ketiga pejuang itu pun menutup sumber air Tjibadak hingga tidak dapat mengalir ke seluruh kantor Pemerintahan Belanda yang terdapat di Bandung Tengah.
“Saat itu kawasan Bandung Utara memang dikenal sebagai tempat para pejuang pribumi. Sedangkan Bandung Tengah oleh Belanda,” jelasnya.
Konon cerita, bahkan aliran air Tjibadak pernah diberi racun saat menjelang peristiwa Bandung Lautan Api. Saat itu dalam radius 500 meter dari kawasan Tjibadak sempat dibangun camp sementara sebagai tempat perlindungan para pejuang beristirahat.
Namun pertempuran Bandung Utara terbesar justru berlangsung di depan gerbang Universitas Pendidikan Indonesia saat ini. Tepat di depan sebuah penjara panjang bernama rumah Tambayong (sekarang Hotel Ponti) yang pada zaman kemerdekaan pernah ditemukan 29 fosil mayat.
Sebagai penghargaan atas perjuangan dalam pertempuran Bandung Utara maka penamaan jalan di tiga lokasi penjagaan tersebut dinamakan serupa nama ketiga laskar, yakni Jalan Sersan Bajuri, Jalan Sersan Surip, dan Jalan Sersan Sodik.
“Jadi, apa yang seharusnya kita ingat dari kawasan Ledeng dan atribut-atributnya? Adalah air yang berlimpah, yang kini telah hilang,” pungkasnya.
Dia berharap, bukan bangunannya saja yang harus diperhatikan dan dipelihara dari “Gedong Cai” ini karena memang usianya yang mau menginjak ke- 100 tahun. Namun pemanfaatan air yan harus terus dijaga mengingat debit airnya kini makin berkurang dar awal 100 liter/detik – sekarang menjadi hanya 17 liter per detik. Salah satu penyebabnya boleh jadi karena sudah terlalu banyak bangunan di sekitar area cagar budaya ini.
Jika terus-menerus tidak diperhatikan dan dirawat, ada kemungkinan akan kering dan itu artinya petaka bagi “urang” Bandung dalam memenuhi kebutuhan air bersihnya. @yusup supriatna

Baca Juga :  SELEB: Foto Mesra Beredar, Ara dan Chika JKT48 Dihukum Manajemen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Solidaritas Yahudi dan Muslim di Amerika Serikat (2)

Sab Agu 22 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Terlebih sejak Donald Trump dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat pada 20 Januari 2017 lalu. Ketika masjid Victoria Islamic Centre terbakar pada Sabtu (28/1) lalu dan umat muslim tidak dapat beribadah, sekelompok orang Yahudi memberikan kunci sinagognya agar umat Islam bisa menggunakannya untuk salat. Kepala sinagog Bani Israel, […]