Solideo Farm Berkomitmen Jalankan Misi Kemanusiaan di Wilayah Kabupaten Sikka NTT

Editor Onwer Solideo Farm, Damianus Rofin S. Muda. /visi.news/yeremias yosef sere
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Solideo Farm merupakan salah satu pusat peternakan ayam kampung unggulan Balai Penelitian Ternak (Balitnak), yang berlokasi di Kloangbolat, Desa Geliting, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka.

Sebagai sebuah pusat peternakan ayam kampung, Solideo Farm berkomitmen untuk menjalankan misi kemanusiaan bersama pemerintah dan masyarakat, demi menggempur stunting di wilayah Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Onwer Solideo Farm, Damianus Rofinus Sere Muda kepada VISI.NEWS mengatakan, dirinya merasa bangga sebab diberikan kepercayaan oleh beberapa desa di Kabupaten Sikka untuk menangani anak-anak penderita stunting di masing-masing desa tersebut.

Selain stunting, dia juga diberi kepercayaan untuk menanggulangi penderita gizi buruk, gizi kurang, dan ibu hamil kurang energi kronik (bumil kek) melalui daging dan telor ayam kampung, hasil produksi dari Solideo Farm.

“Ini kebanggaan yang luar biasa bagi saya. Jadi ketika diberikan kepercayaan ini, saya harus bisa membuktikan itu,” jelas Rofin, sapaannya pada Senin, (27/9/2021).

Anak pertama dari pasangan Pius Tata Muda dan Lusia Ema Kwuta ini pun menceritakan bahwa, sejak tahun 2019 lalu, dirinya sudah mulai bekerja sama untuk mendistribusikan daging dan telor ayam kampung ke beberapa desa di wilayah Kecamatan Hewokloang.

Dimana, tawaran untuk kerja sama tersebut pertama kali muncul dari Desa Kajowair dan berlanjut ke Desa Hewokloang, Wolomapa, Munerana maupun Baomekot. Peluang itu pun, akhirnya disambut dengan baik oleh dirinya.

Rofin kemudian mulai melakukan suplai daging dan telor ayam kampung selama tiga bulan kepada semua desa itu, agar dapat dikonsumsi oleh anak-anak penderita stunting, gizi buruk, gizi kurang maupun bumil kek.

“Jadi untuk telor ayam, akan dikonsumsi sebanyak satu butir setiap harinya. Sementara untuk daging ayam, dikonsumsi sebanyak tiga kali dalam seminggu yakni, pada hari Senin, Rabu dan Jumat,” katanya.

Untuk telor ayam yang harus dikonsumsi setiap harinya, maka penyaluran dilakukan olehnya seminggu sekali. Sedangkan pada minggu berikutnya, dia harus mengantar telor ayam yang baru lagi, demi menjaga kualitas proteinnya agar tetap hidup.

Baca Juga :  USWAH: ‘Abbad bin Bisyir, Tetap Salat walau Terpanah (3/Habis)

Sebab menurut suami dari Maria Immaculata Herliana ini, di dalam telor terdapat kandungan protein, lemak serta sedikit karbohidrat. Yang mana, protein itu sangat dibutuhkan termasuk lemak baik yang ada didalam telor itu, serta hidup selama 14 hari dan setelah itu protein tersebut akan mati.

Tak hanya itu, dia juga memastikan bahwa kualitas telor ayam kampung dari Solideo Farm, tidak akan ada sistem droping lepas.

Melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang secara real sudah dilakukan dua tahun berturut-turut belakangan ini, Rofin pun akhirnya berhasil dan mampu menanggulangi stunting, gizi buruk, gizi kurang maupun bumil kek di beberapa desa itu.

“Anak-anak stunting setelah makan telor dan daging ayam, menunjukkan perubahan yang baik. Ketika rembuk stunting di Kecamatan Hewokloang, beberapa kepala desa juga menyampaikan bahwa ada banyak perubahan pada anak-anak stunting setelah makan telor dan daging ayam kampung,” beber ayah dari Kirana dan Jeslin ini.

“Saya bangga ketika banyak anak yang tertolong dan terjadi penurunan angka stunting secara drastis di beberapa desa itu. Ini kepuasan tersendiri buat saya. Walaupun untung sedikit, tetapi yang terpenting sesuai misi kami untuk selamatkan anak manusia,” ujarnya.

Dari pengalamannya selama dua tahun berturut-turut dan sudah memasuki tahun yang ketiga ini, Rofin berkomitmen untuk tetap melayani dengan sebaik mungkin terhadap permintaan dari desa-desa yang sudah menjalin kerja sama dengan pihaknya.

Termasuk dengan Desa Ian Tena, Kecamatan Kewapante, yang beberapa waktu lalu baru saja menjalin kerja sama dengan Solideo Farm, melalui peluncuran program “Pang Gizi”.

Dirinya juga berjanji akan turun langsung untuk memback up semua kegiatan penanganan stunting di beberapa desa tersebut, sebanyak dua sampai tiga kali dalam seminggu.

Baca Juga :  Karyawan PT. Greentex Indonesia Utama II Pertanyakan Uang Iuran JHT yang Tak Dibayarkan

“Ini kebanggaan yang luar biasa bagi saya. Meskipun saya rugi secara bisnis, tetapi yang terpenting sesuai misi kami yaitu misi kemanusiaan, dan bersama-sama kita menggempur stunting itu sendiri,” ungkapnya.

Senada, Kepala Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang, Silvester Moa mengungkapkan, pihaknya mulai melakukan kerja sama dengan Solideo Farm sejak tahun 2019 lalu.

“Kerja sama dengan Solideo Farm ini sangat menarik, karena kita diwajibkan memasok daging dan telor ayam kampung untuk stunting tapi kami sangat kekurangan dan sulit untuk mendapatkannya. Sehingga kami bertemu dan bercerita dengan Rofin Muda dan mulai melakukan kerja sama sejak tahun 2019 sampai saat ini,” terangnya.

Sebagai desa pertama di Kabupaten Sikka yang bekerja sama dengan Solideo Farm, pihaknya mulai melakukan penanggulangan stunting pada tahun 2019 dengan waktu selama satu bulan.

Dimana, dilakukan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa daging dan telor ayam kampung kepada anak penderita sunting dibawah usia dua tahun, penanggulangan gizi kurang diatas dua hingga lima tahun, juga terhadap ibu hamil baik yang bereziko maupun tidak sebanyak 64 orang. Dengan menggunakan anggaran melalui Dana Desa sekitar Rp. 30.000.000.

Silvester menambahkan, di tahun 2020, kegiatan penanggulangan stunting itu tetap dilakukan lagi selama tiga bulan, meskipun sebagian anggaran Dana Desa dipotong untuk penanggulangan Covid-19.

“Jadi, di tahun 2020 dilanjutkan lagi selama tiga bulan dan terjadi penurunan angka stunting, dari 64 menjadi 32 orang. Sedangkan tahun 2021, turun lagi dari 32 menjadi 12 orang,” paparnya.

Lanjut Silvester, pada tahun 2021, alokasi dana untuk penanggulangan stunting di Desa Kajowair cukup besar, yakni sekitar Rp. 64.000.000.

Yang mana, diperuntukan bagi bayi/balita stunting sebanyak 12 orang selama 180 hari (enam bulan), ibu hamil sebanyak lima orang selama 90 hari (tiga bulan), serta untuk penderita gizi kurang terdapat lima orang, yang dilakukan penanganan selama 90 hari (tiga bulan) juga.

Baca Juga :  H. Yanto Terima Keluhan Kerusakan Infrastruktur di Margaasih

Terhadap produk Solideo Farm, Silvester mengatakan, kualitas ayam kampungnya jauh lebih tebal dan empuk dagingnya. Sementara, telor ayam juga sangat membantu sebab pihaknya ketika membutuhkan dalam jumlah yang banyak, dapat disiapkan oleh Solideo Farm.

“Kami sudah coba cek di Pasar Alok dan Wairkoja, tidak ada pedagang yang menyediahkan satu sampai dua papan telor ayam kampung, palingan cuma beberapa butir saja,” bebernya.

“Perbedaan juga dari segi ayam, kalau di pasar kita bisa beli seharga Rp. 150.000 hingga Rp. 200.000. Tetapi di Solideo Farm, kita bisa dapatkan dengan Rp. 100.000 bahkan Rp. 200.000 bisa dapat 2 ekor, dengan kualitas yang jauh diatas, lebih tebal dan empuk dagingnya,” tambahnya.

Dengan kualitas yang demikian, sehingga dirinya merasa tertarik dan tetap melakukan kerja sama hingga saat ini. Apalagi stok daging dan telor ayam kampung ala Solideo Farm tetap ada dan selalu siap jika dibutuhkan oleh pihaknya.

Menurut Silvester, daging dan telor ayam kampung itu dimasak setiap hari, di tempat yang telah disiapkan dan diambil oleh mereka (penderita stunting, gizi kurang, ibu hamil) sendiri untuk dimakan.

“Dulu tahun 2019, yang gizi kurang dibawah ke rumah. Tetapi setelah di cek oleh kader, telor ayam yang diperuntukan satu bulan, sudah habis dalam seminggu saja. Jadi lebih efisiennya, mereka makan langsung di lokasi yang telah disiapkan, itu lebih baik dan aman. Apalagi sekarang mereka harus makan daging dan telor ayam setiap hari,” jelasnya.

Meskipun demikian, dia menuturkan bahwa, pola stunting tersebut bukan hanya memberikan makanan dengan gizi, namun pola asuh dalam keluarga pun mempunyai peranan yang sangat penting.

“Jadi terlepas dari pemberian makanan dengan standar gizi sesuai dengan yang dianjurkan oleh pihak Puskesmas, tetapi yang terpenting bahwa harus adanya pola asuh di tingkat keluarga,” ungkapnya.@yer

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pemkab Bandung Raih Anugerah Keterbukaan Informasi Publik Desa

Sel Sep 28 , 2021
Silahkan bagikan Bupati Bandung, “Kami akan berikan reward kepada desa-desa terbaik” VISI.NEWS – Pemkab Bandung meraih Anugerah Apresiasi Implementasi Keterbukaan Informasi Publik Desa dari Pemerintah Pusat. Penghargaan itu diberikan setelah Desa Cibiru Wetan Kecamatan Cileunyi, didaulat menerima Apresiasi Keterbukaan Informasi Publik Terbaik ke 4 Nasional. Penghargaan diserahkan dalam rangka memperingati […]