Ternyata, Ada 9 Orang di Cipatujah Tasikmalaya yang Dipasung karena Gangguan Jiwa

Editor Dua orang pengidap ODGJ di Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya yang dipasung keluarganya./kolase/visi.news/ayi kuraesin.
Silahkan bagikan

– “Mereka ‘kan butuh kehidupan yang layak. Mereka itu manusia yang harus dimanusiakan.”

VISI.NEWS – Ternyata, penderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat yang dipasung keluarganya ada sebanyak 9 orang.

Hal tersebut diungkapkan Pimpinan Yayasan Daarul Ihsan, H. Maman Suparman, menanggapi pemberitaan terkait YS, pemuda berusia 31 tahun warga Kampung Sabeulit, Desa Cipatujah, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat yang dipasung oleh keluarganya.

Menurut H. Maman, ada sembilan penyandang ODGJ di Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, yang dipasung keluarganya dan akan dievakuasi. Dia mengaku awalnya mendapat informasi hanya seorang penyandang ODGJ yakni Yadi. Tapi setelah tiba di lokasi ternyata ada sembilan orang.

“Kesembilan ODGJ tersebut antara lain berasal dari tiga desa yakni Desa Cipatujah, Desa Tobongjaya, dan Desa Padawaras,” kata H. Maman kepada VISI.NEWS melalui saluran telefon, Senin (28/12/2020).

Dikatakan H. Maman, dari sembilan ODGJ itu, sebanyak tujuh orang sudah dibawa ke yayasan. Sedangkan yang dua lagi, rencananya hari ini akan dibawa karena sewaktu yang pengambilan pertama mobilnya hanya muat tujuh orang.

Para pengidap ODGJ tersebut akan mejalani perawatan awal di yayasan. Kemudian dibawa ke RSJ Cisarua, Bogor untuk perawatan lebih intensif. Nantinya, setelah selesai menjalani pengobatan di RSJ akan dikembalikan ke yayasan untuk menjalani proses terakhir yakni pemulihan.

“Sebelumnya, kesembilan ODGJ itu rata-rata dikurung atau dipasung oleh keluarganya dalam ruang sempit. Ada yang berdinding tembok, ada pula yang berdinding kayu,” ujarnya.

Dijelaskan H. Maman, mereka dikurung keluarganya karena dikhawatirkan mengganggu kenyamaman warga. Untuk itu pihaknya membawa semuanya untuk mendapat perawatan yang layak.

Baca Juga :  Tembus 8.147 Pasien, Kasus Covid-19 di DIY Terus Bertambah

Hal tersebut termasuk YS yang dibawa Yayasan Daarul Ihsan yang beralamat di Kampung Cibeureum II, Kelurahan Sukalaksana, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya.

Kegiatan membebaskan para ODGJ yang mengalami pemasungan adalah langkah agar tidak terjadi lagi pemasungan. Sekalipun dalam kegiatannya tidak ada ikut campur peran dari dinas sosial setempat.

Padahal, seharusnya dinas sosiallah yang memiliki kewajiban membebaskan para pasien ODGJ dari pemasungan. Namun, di lapangan peran dinas itu tak terasa. Buktinya, masih banyak pasien ODGJ yang mengalami pemasungan.

“Kami tidak menyalahkan masyarakat atas pemasungan kepada anggota keluarganya yang mengalami ODGJ. Sebab, itu mungkin satu-satunya cara yang diketahui warga untuk merawat ODGJ,” ucapnya.

Tapi seharusnya, lanjut Maman, tanggung jawab terbesar adalah pada dinas sosial dan dinas kesehatan setempat. Tugas kedua dinas itu adalah memberikan pemahaman kepada keluarga dan menyediakan layanan pengobatan bagi para ODGJ.

Dia mengakui sudah ada program pemerintah untuk merujuk para pasien ODGJ ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan pengobatan. Namun, setelah pengobatan di rumah sakit selesai dan pasien dipulangkan, tak ada perhatian lebih lanjut.

Padahal, masa pascaperawatan di rumah sakit adalah yang paling penting. Pasien ODGJ harus secara rutin meminum obat agar penyakitnya tak kambuh. Sementara, tak semua keluarga pasien ODGJ itu paham dan mampu secara pembiayaan.

“Kami berharap kerja samanya dari semua pihak untuk benar-benar menjalankan program bebas pasung, terutama dinas sosial. Mereka kan butuh kehidupan yang layak. Mereka itu manusia yang harus dimanusiakan,” ungkapnya. @arn

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Warga Pengguna Harap Berhati-hati, di Musim Hujan Jalur Garut Selatan Rawan Bencana

Sen Des 28 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Jalur jalan Garut Selatan yang merupakan jalur wisata merupakan salah satu lokasi rawan bencana, terutama di musim hujan. Di sini kerap terjadi bencana longsor, seperti di Kecamatan Cisewu dan Talegong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. BPBD kabupaten Garut pun memberikan imbauan agar para pengguna jalan dari Pangalengan menuju […]