Terobosan Baru di Indonesia, STTB Baleendah Buka Peluang Bagi 3.000 Mahasiswa Program Kuliah dan Kerja di Jepang

Editor Ketua STTB Kampus Baleendah Muchammad Naseer, S.Kom., M.T. /visi.news/m alfa fadillah
Silahkan bagikan
  • “Kita sudah mengkalkulasi, dengan gaji pekerja di Jepang Rp. 20 juta sebulan, mereka bisa menyelesaikan biaya program ini tidak sampai setahun, dan kesananya mereka tinggal fokus, siang kerja, sore kuliah secara daring dari Jepang. Nanti untuk wisudayanya, bisa dilakukan di Jepang atau di Indonesia,” tandasnya.

VISI.NEWS | BALEENDAH – Dalam kerjasama G to G Indonesia mendapat kuota pekerja migran ke Jepang sebanyak 75 ribu untuk lima tahun ke depan, namun dari jumlah tersebut pemerintah hanya mampu memenuhi sebanyak 3.000 pertahunnya.

“Ini sebetulnya peluang bagi para pencari kerja untuk meningkatkan kesejahteraaanya, karena setelah bekerja di Jepang, selain punya kecakapan dalam bidangnya juga etos kerjanya terbentuk dengan baik,” ungkap Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STTB) Kampus Baleendah Muchammad Naseer, S.Kom., M.T. kepada VISI.NEWS, Sabtu (18/12/21).

Jajaran Pimpinan STTB Baleendah dan BP2MI Jawa Barat. /visi.news/m alfa fadillah

Oleh karena itu, perguruan tingginya menangkap peluang yang sangat baik itu dengan membuat program khusus, kerja dan kuliah. STTB Baleendah, katanya, menggaet Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) dengan membuat kesepakatan kerjasama atau MoU. “Ini terobosan satu-satunya yang dilakukan perguruan tinggi di Indonesia. Para calon pekerja migram ke Jepang bisa kerja sambil kuliah. Jadi mereka nanti bisa menjadi SDM yang sangat unggul, sarjana dan punya kompetensi dalam bidang pekerjaannya,” ungkapnya.

Melihat peluang yang sangat baik ini, Naseer berani mematok target untuk tahun 2022 sebanyak 3.000 mahasiswa yang bisa direkrut untuk mengikuti program tersebut. Keberanian tersebut didasari skema pembiayaan kuliah yang sangat terjangkau. “Total biaya untuk mengikuti program ini sampai mahasiswa lulus jadi sarjana, sekira Rp. 80 juta. Sebesar Rp. 40 juta untuk program kuliah sampai selesai, dan Rp. 40 juta lainnya untuk pelatihan khusus seperti belajar bahasa Jepang sampai minimal gradenya N4, pengenalan budaya Jepang dan tentu saja yang paling penting mengenai tata krama atau etika, karena banyak yang gagalnya di sini, ” ungkapnya.

Baca Juga :  REFLEKSI | Allah Tak Bisa Ditipu

Tapi jangan khawatir, kata Naseer, mereka tidak perlu membayar sebanyak itu, tapi cukup membayar biaya kuliah bulanan Rp 500.000,-/bulan. Sedangkan biaya yang Rp. 80 juta tersebut, bisa dicicil setelah mereka bekerja di Jepang. “Kita sudah mengkalkulasi, dengan gaji pekerja di Jepang Rp. 20 juta sebulan, mereka bisa menyelesaikan biaya program ini tidak sampai setahun, dan kesananya mereka tinggal fokus, siang kerja, sore kuliah secara daring dari Jepang. Nanti untuk wisudayanya, bisa dilakukan di Jepang atau di Indonesia,” tandasnya.

Naseer menambahkan, melalui program ini pihaknya juga mengantisipasi kemungkinan Pekerja Migram Indonesia (PMI) yang selesai program di Jepang, dan pulang ke Indonesia, tetap terbuka kesempatan bekerja dimanapun. “Program ini juga tentunya mengatasi hambatas proses administrasi dalam sistem rekrutment pekerja di Indonesia yang masih melihat ijasah. Dengan program ini, ketika mereka pulang dari Jepang, tetap kompetitif untuk masuk bursa kerja di Indonesia, baik di swasta maupun di pemerintahan,” tandasnya.

Sehingga, kata Naseer, program ini benar-benar akan sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan para peserta program ini. “Para pekerja migran ini nantinya punya insight baru, punya pengalaman baru. Sebagai investasi untuk masa depan. Mereka diharapkan nantinya benar-benar menjadi SDM unggul kita,” ungkapnya.

Untuk program ini, kata Naseer, pada Desember 2021 ini sebagai langkah awal sudah direkrut sebanyak 66 mahasiswa yang mengikuti program ini di kampus Baleendah. Mereka mengikuti kegiatan di kampus baru Jalan Adipati Agung, seberang Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Bandung. “Kita ngebut untuk menyelenggarakan program ini, baik sarana maupun penyiapan sumber daya manusianya,” pungkasnya.

Sementara itu, Ade Setiawan yang membidangi program kampus merdeka di STTB Baleendah mengatakan bahwa pihaknya membuka ruang bukan hanya untuk calon mahasiswa yang berada di Kabupaten Bandung tapi berbagai daerah di Indonesia.”Kita membuka peluang untuk anak bangsa dari berbagai daerah. Maka, kami juga terus mengadakan roadshow ke berbagai daerah di Jawa Barat khususnya dengan menemui para kepala daerah dan menawarkan program ini,” ungkap Ade.@alfa

Baca Juga :  KNPI Jabar-BNN Jabar Sepakat Berantas Narkoba

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

PAM PPKM, Danramil Wanayasa Terjunkan 2 Personil Himbau Prokes di Obyek Wisata

Ming Des 19 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS | PURWAKARTA – Upaya Mencegah penyebaran Covid-19, Koramil 01/Wanayasa Kodim 0619/Purwakarta melaksanakan kegiatan PPKM Mikro di obyek wisata Batu Apung Desa Wanasari Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta. Minggu (19/12/2021). Kegiatan PPKM Mikro dengan memberikan sosialisasi dan himbauan kepada pengelola objek wisata dan wisatawan agar selalu menerapkan protokol kesehatan 5M […]