USWAH: Kisah Sufi dan Malaikat Turun untuk Tawaf

Editor Ilustrasi./via republika.co.id/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Sahal bin Abdullah at-Tustari adalah seorang sufi yang pertama kali menulis tafsir Al Quran dalam pandangan tasawuf. 

Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny dalam bukunya 198 kisah Haji Wali-Wali Allah mengatakan, Sahal juga merupakan peletak dasar ajaran mazhab tasawuf Salimiyah. Dia lahir di Tustar, tetapi lebih banyak tinggal di Basrah.

“Dia memulai perjalanannya ke Mekah pada usia 16 tahun di dampingi Syekh Muhammad bin Muhammad bin Sawwar. Dia juga belajar kepada Jun Nun al-Mishri seorang sufi besar,” katanya.

Sahal bercerita menurutnya merupakan suatu kehinaan bagi seorang wali Allah bergaul dengan orang banyak dan satu kemuliaan baginya bersendirian dalam kesunyian.

Menurutnya, sedikit sekali para wali Allah yang tidak suka kesunyian.

“Kecuali Abdullah bin Saleh,” kata Sahal.

Sahal mengatakan, Abdullah bin Saleh pernah hidup menyendiri dan mengembara seorang diri dari kota ke kota lainnya sehingga sampailah dia di Kota Mekah Al-Mukaramah dan di sana dia tinggal untuk beberapa lama. 

Ketika Sahal menunaikan haji, bertemu dengan Abdullah Saleh dan bertanya, “Kalau aku perhatikan tampaknya engkau akan tinggal lama di sini?”

Abdullah bin Saleh menjawabnya,  “Mengapa tidak? Aku tidak pernah mendapati kota seperti ini, tempat Allah menurunkan rahmat dan berkah-Nya yang tidak terkira. Di sini malaikat turun siang dan malam.” 

Abdullah bin Saleh mengatakan bahwa ia melihat beberapa masalah yang menakjubkan terjadi di sini. Para malaikat melakukan tawaf dengan berbagai cara di Baitullah. 

“Jika aku ceritakan kisah ini kepada orang-orang yang tidak memiliki iman yang sejati, pasti mereka tidak akan mempercayainya,”

Sahal berkata, “Demi Allah, ceritakanlah suatu yang menakjubkan itu,” pinta Sahal.

Baca Juga :  Modusnya Pengancaman Hingga Pemerasan Kepada Nasabah, Tiga Karyawan Pinjaman Online Ilegal Diamankan

Abdullah bin Saleh bercerita setiap wali Allah yang mulia akan berkumpul di sini pada hari Kamis malam Jumat. Rasa ingin melihat mereka itulah yang menyebabkan ia berhasrat kuat ingin berada di Mekah selamanya. 

Di antara mereka, ia pernah berjumpa dengan seorang wali Allah yang bernama Malik bin Qasim al-Jalil. Suatu ketika, dari tangannya ia mencium bau masakan daging, maka ia bertanya kepada Malik.

“Apakah engkau terlebih dahulu makan sebelum datang ke sini.” 

Dia menjawab, “Astagfirullah. Sebenarnya sudah seminggu aku tidak makan apa pun. Namun, baru saja aku memberi makan ibuku kemudian aku datang ke sini tergesa-gesa, agar aku dapat salat subuh bersama-sama jemaah.”

Abdullah berkata, “Wahai Sahal padahal jarak antara rumah Malik bin Qasim di Mekah kira-kira 900 farsakh dan satu farsakh sama dengan 8 km.  Dengan demikian dia berjalan kurang lebih 7.200 km.”

Kemudian Abdullah bertanya, ” Apakah engkau mempercayai ceritaku?”

“Ya, aku percaya,”Jawab Sahal at Tustari.

“Alhamdulillah aku telah bertemu dengan seorang mukmin,” sahut Abdullah. @fen/sumber: republika.co.id

 

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

TAUSIAH: Menjaga 5 Amalan Setelah Meninggalkan Ramadan

Rab Jun 2 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Apa yang tersisa dalam diri kita setelah berakhirnya Ramadan? Adakah bekas-bekas kebaikan tampak pada diri kita setelah keluar dari madrasah Ramadan? Semoga kita tidak termasuk dalam kategori orang yang hanya beribadah selama di Ramadan, kemudian selepas itu meninggalkannya. Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi rahimahullah pernah ditanya tentang orang-orang rajin […]